memotivasi diri

Teman-teman terkasih,

jika kau masih hidup sampai sekarang,
berarti kau masih beroleh anugerah Tuhan
yaitu kesempatan untuk mewarnai dunia dengan cerahmu'


My Beloved Friends,
if you still alive,
that means you still get a grace from God,
a chance to color the world with your bright.

Kamis, 26 Maret 2020

Memahat Harapan

(Tunas Anggrek. Photo by Ari)

Pernah ...
Saat semua mata menutup seolah tanpa harapan
Dalam pekatnya kabut bencana yang hampir mematikan semangat

Namun tak perlu cemaskan lagi saat harapan itu memunculkan diri dalam kelamnya kenyataan
Mempunyai iman pada Sang Penguasa jagat raya
Pemberi sauh kuat pada harapan
Bukankah demikian?

Jangan biarkan suasana kini menggalaukan batinmu terus menerus
Segera legakan akalmu dalam damai batin senantiasa
Dekatkan dirimu pada Pemilik jiwa ragamu
Percayalah pada segala kebaikan yang nantinya mengikuti 

Iya.. 
Entah itu masih lama
Ataukah dalam sejenak ke depan
Tetapkan tenang pada nurani
Ijinkan sejahtera menaungi hati
Mari bersama memahat harapan 
Pada setiap jiwa

...
Written by Ari Budiyanti
26 Maret 2020

#PuisiHatiAriBudiyanti



Rabu, 25 Maret 2020

Aku dan Senja dalam Balutan Rasa Curiga

(Bunga Matahari. Photo by Ari )

Senja telah datang lagi kini
Membatasi siang dengan segala kesibukannya
Memang tak lagi sama dengan waktu itu
Saat segala tugas terselesaikan di rumah dan tak lagi ke kantor

Senja tetap datang meski perubahan memberi perbedaan pada hari yang tak pernah sama
Lalu aku juga selalu sama menanti kehadiran senja sebagai pertandaku untuk berhenti saja
Semua akan berlanjut lagi esok hari
Dalam kesibukan lainnya di tempat yang sama

Terkadang curiga muncul saat berada hanya di satu tempat saja yang tertentukan
Ketika gerak dibatasi oleh keadaan 
Semua harus diselesaikan sesuai jadwal dengan menempati satu titik

Kapankah semua ini berakhir?
Kapankah kebebasan berkeliling lagi ke sana ke mari?
Kapankah terjalin kembali tali silaturahmi dengan sesama dalam sapa nyata
Bukan lagi hanya melalu dunia on line

Ah.. 
Mengapa curiga selalu saja muncul bersama senja
Seolah waktu esok masih juga sama
Meski begitu curigaku tak bisa menghentikan senja
Yang selalu datang lagi pada waktu yang tepat

Kini aku dan senja terbalut oleh rasa curiga
Semoga segera berlalu dan berakhir dengan baik

...

Written by Ari Budiyanti
25 Maret 2020

#PuisiHatiAriBudiyanti






Selasa, 24 Maret 2020

Tumpukan Takut Mengemas Cemas

(Bunga Wijaya Kusuma, photo by Ari)

Dia mengetuk setiap pintu kala malam
Mencari tahu apakah ada yang terjaga
Namun semua terlelap tenang dalam buaian mimpi

Dalam damai yang dikira kekal mereka telah mengunci diri
Dalam ketenangan yang dikira selamanya mereka mengisolasi nurani 

Atas dia.yang ingin bertandang dalam pertemanan
Ditolak dalam kuncian kuat pemilik tiap pintu 

Hingga tiba saatnya akan terbuka 
Semua cemas yang menumpuk di pelupuk tatapan mata yang mulai melapuk
Semua cemas yang dikemas rapi dalam peti emas

Semua merasa lebih baik berdiam dalam kesunyian
Menarik diri daei segala peradaban
Demi sebuah rasa yang diyakini sebagai keselamatan 

Maka bersiaplah saat waktunya tiba
Ketika rasa itu melepuh dalam rindu akan kebersamaan insan
Ketika ruang tak lagi dibatasi ketakutan
Dan lecemasan tak lagi merajai nurani

Biarlah ketalutan dan kecemasan itu segera berlalu
Dan setiap insan kembali membuka pintu persahabatan

...
Written by Ari Budiyanti
#PuisiHatiAriBudiyanti
24 Maret 2020




Senin, 23 Maret 2020

Terkadangku Tak Ingin Menyapamu


Ada masanya hati ini terserak rasa menekan
Sehingga batin tak ingin sekedar mengadu
Saat terasa nurani melara 
Dalam buaian pesona amarah yang teredam

Kala inilah susah menerima nyatanya peristiwa
Tak ingin mengeluh pun tak berkesah
Namun nyatanya beban membara menekan asa
Yang memadu dalam peraduan sendu tanpa kata

Aku hanya sedang tak ingin menyapa keberadaanmu
Bukan karena alasan apapun di atas benci
Hanya segala gundah gulana yang menyita emosi
Sehingga menyapamu terkadang tal.lagi terbersit di pikiranku

Maaf bila aku terkadang tak ingin menyapamu
Hanya itu saja
...

Written by Ari Budiyanti
23 Maret 2020
#PuisiHatiAriBudiyanti

Ilustrasi puisi
Dokpri

Minggu, 22 Maret 2020

Ketika Mendung Mencekam

( Mendung di depan rumah. Photo by Ari )

Terkadang kenangan itu membentang di ingatan 
Membuka luka masa lalu dalam ketakutan akan datangnya hujan
Saat dinding rumah bergetar karena gemuruh guntur
Pun derasnya guyuran air mengelilingi rumah tinggal masa kecilku

Selalu cemas saat air mengalir deras
Dalam dekapan kecewanya cuaca yang membuat rasa mengeras
Kini semua ingatan terbawa sampai masa depan
Kala angkasa kembali diselimuti mendung tebal yang mencekam

Betapa bait-bait hati ingin mencipta larik puisi tentang hujan
Mengharap menjadi mantera pengusir hujan 
Atau sekedar angin pengusir awan mendung 

Sekelebat mendung lebat di angkasa gelap 
Membawa ingatan mencekam di masa lalu
Semoga tidak seburuk di masa lalu 
Semoga alam kembali bersahabat denganku
Menyibak kenangan indah saja di masa yang telah terlewati

#PuisiHatiAriBudiyanti
Written by Ari Budiyanti
22 Maret 2020




Selasa, 17 Maret 2020

Haruskah Kuberhenti?

Gejalanya nampak jelas di mata 
Betapa lelah fisik beradu menguni raga
Dalam getaran yang menggelorakan emosi
Teredam oleh padatnay karya yang harus dipenuhi

Semakin terasa saat sejenak diam
Dalam buaian istirahat ragani sejenak
Namun nyatanya semakin terasa 
Gejolak getaran penyumbang resah

Haruskah aku menghentikan segala 
Yang membuat badan ini bersimpuh peluh
Ataukah masih harus ku lanjut perjalanan
Meski batin meronta meminta raga 
Diam selamanya dalam haribaan bait bunga

....
Written by Ari Budiyanti
17 Maret 2020

#PuisiHatiAriBudiyanti

Rabu, 11 Maret 2020

Jangan Menahan Rindu Lebih Lama




Semilir angin berpadu dengan kicauan burung-burung kecil 
Beterbangan merendah mencari ranting-ranting pohon yang nyaman
Membawa aneka ornamen alam untuk membiat sarang tempat mereka berteduh
Bersama keluarga kecil yang dibinanya
Melindungi telur dari kejaran pemangsa agar menetas pada saatnya yang tepat

Juga alunan nada lain oleh gemerisiknya pepadian yang bergoyang tersapu angin
Dalam bulir-bulir yang berisi membuatnya makin menunduk saat angin menyapanya
Berusaha menyembunyikan butiran bernasnya dari kejaran burung-burung kecil pencari makan

Juga pemandangan para petani bertudung kala siang menyengat
Berusaha tabah dan penuh semangat
Menantikan masa panen penuh tuaian 
Setelah masa-masa bertanam dan merawat padi dalam kesabaran pun penuh ketelatenan
Berdoa agar tiada wabah dan bencana menghambat masa bahagia 
Saat musim menuai tiba

Juga gemericik aliran air sungai kecil yang terkadang dihuni ikan
Tempat menyeleraskan penat dari seharian berkubang lumpur di persawahan
Membuai rasa dingin menelisik hingga ke hati sejuknya air di sungai pedesaan
Dengan pepohonan rimbun di sekitar tepiannya
Ah betapa indahnya suasana kala senja tiba di sana 

Semua itu sungguh berkejaran di anganku
Melintasi awan-awan penatku pada nyatanya kehidupan masa kini
Saat kuputuskan mencari sekedar sesuap nasi
Di tempat nan jauh dari semua keindahan dan keasrian kampung halaman tercinta
Beradu dengan penat udata ibukota
Pun hiruk pikuk dunia penuh kecemasan terjangkit corona 
Kini menggebu-gebu rasa rindu di kalbu
Akan desa kelahiran yang kutinggalkan lama
Ingin aku segera pulang menuju kampung tercinta
Ku tak mau lagi menahan rindu terlalu lama
 ..

Written by Ari Budiyanti
11 Maret 2020

#PuisiHatiAriBudiyanti

Ilustrasi puisi dokpri