memotivasi diri

Teman-teman terkasih,

jika kau masih hidup sampai sekarang,
berarti kau masih beroleh anugerah Tuhan
yaitu kesempatan untuk mewarnai dunia dengan cerahmu'


My Beloved Friends,
if you still alive,
that means you still get a grace from God,
a chance to color the world with your bright.

Kamis, 31 Oktober 2019

Dahulu Cinta Pun Kini Jua (Jangan Berubah)

Suaramu merdu mendayu
Saat ternyanyikan sebuah lagu
Nada cinta terlantunkan merindu
Hadirnya kisah kasih dua insan memadu

Suara itu sekejap berubah
Menjadi serak dan penuh gundah
Keras menyeruak merebakkan amarah
Tak lagi dalam lembut sapa yang indah

Mengapa menjadi cepat berubah
Ketika bersama dalam sebuah bahtera
Bukankah untuk kebahagiaan berdua
Namun mengapa menjadi bagai neraka

Ketika kau ingin aku memahamimu
Ketika ku ingin pun kau mengertiku
Saling menuntut tanpa pemahaman
Menjadikan berat semua perjalanan

Mampukah kita seperti waktu dulu
Saat sebelum memadu rindu bersatu
Ketika bentangan jarak menghias rasa
Penuh kekaguman di antara dua jiwa

Cinta yang dulu menyatukan kita
Mampukah berkuasa meredam beda
Adakah kesempatan membuai mimpi
Untuk tak lagi sekedar imajinasi

Bila dua hati mau bersama mencoba
Memadukan semua beda dalam asa
Harapan itu ada untuk perbaruan
Hidup di masa depan penuh harapan

..
Aku dan kamu mari saling mengerti
Untuk menyatukan hati dalam harmoni
...

Written by Ari Budiyanti
30 Oktober 2019

#PuisiHatiAriBudiyanti

Rabu, 30 Oktober 2019

Saat Itu Semua Menjadi Kenangan

Karena kamu, aku berani menggayuh
Saat hanya dalam sejenak katamu
Memberi semangat mampu merengkuh
Sebuah keberanian kemudian timbul

Kupikir kau lah dia si pelita hati
Karena hadirmu selalu menginspirasi
Bahkan lakumu memberi sejuta arti
Hanya sesaat sampai kau pergi

Di senja ini aku sedang mensyukuri
Tetibamu yang hanya hadir sementara
Mungkin garis hidup tak menghendaki
Kebersamaan kita menjadi selamanya

Bagai tertelan senja semua memori
Namun tak jua menghilang atau berhenti
Semua pesona yang pernah terpatri
Kini terus menghiasi riuhnya hati

Mentari beranjak menuju peraduannya
Mengganti masa terang jadi petang
Demikian pula seperti kisah akhir kita
Membawa rindu di masa mendatang

...
Saat itu semua sudah menjadi kenangan
...

Written by Ari Budiyanti
30 Oktober 2019

#PuisiHatiAriBudiyanti

Selasa, 29 Oktober 2019

Pagi Nan Ceria

Riuhnya gempita suara ceria
Menyambutku setiap fajar datang
Dalam berbagai harapan terbentang
Akan sebuah kebahagiaan penuh suka

Meski terkadang ada pertengkaran kecil
Dihiasi tangisan dan sedu sedan
Dengan berbagai pernak pernik laporan
Tentang kisah yang baru saja terjadi

Bila mata ini tal bisa menjangkau semua
Pun saat raga tak sedang menemani
Pikiran penuh pekerjaan mengerubuti
Dalam batin doa selalu ternaikan dari hati

Pagi datang lagi tak pernah henti
Pun mentari dengan hangat sinarnya
Tang tak pernah sekalipun lupa
Pada putarannya yang menepis sepi

Tawa riang juga terkadang penghiasnya
Atau berbagai cerita apik saat petang
Senantiasa terlantunkan penuh sayang
Memberi nuansa cerah pagi mempesona

Meski kisah ini selalu bergantian
Datang dan pergi dalam sebuah harmoni
Memberi warna-warni  tersendiri
Membuat hari-hari semakin berarti nian

Akan selalu kutunggu setiap pagiku
Yang pasti datang meski sesaat siang
Seperti petang yang akhirnya pun datang
Tak pernah berubah peralihan masa itu

Menikmati hari itu kunci bahagiaku
Karena sadar akan saatnya tiada
Mungkin ini yang terakhir dariku
Atau bersua lagi di pagi yang lainnya

...
Selamat pagi
Selamat beraktivitas
...

Have a nice day

Written by Ari Budiyanti
30 Oktober 2019

#PuisiHatiAriBudiyanti

Binar di Matamu Apakah Pertanda?

Aku bertanya kemakah gerangan arah
Membuatmu tetiba bersemangat wajah
Menatapku dalam senyum ramah
Membuat wajahku merona merah

Tak hanya senyum terberikan sudah
Pun sapamu penuh asa menggugah
Dalam rasa tak terduga bagai terpanah
Sebuah asmara yang membangun kisah

Aku dan kamu masih terbiasa
Menelan semua duka dan suka
Menikmati kesendirian atas semua
Dalam rangkaian kehidupan bersama

Kapankah akan akhirnya terbuka
Bila rasaku dan rasamu bersua
Tanpa gelisah dan resah bertanya
Hanyai mengurai sebuah rasa cinta

Mungkin doaku pun doamu
Sudah ternaikkan tanpa jemu
Pun bila akhirnya tak bertemu
Dalam harap semoga bukan rasa semu

(Saat kutemui binar di matamu
Apakah itu sebuah pertanda untukku?)

....

Written by Ari Budiyanti
29 Oktober 2019
..

#PuisiHatiAriBudiyanti

Senin, 28 Oktober 2019

Meniti Pelangi di Hatimu

Melodi itu kau mainkan kini
Dalam merdu nuansa harmoni
Pekik rindu menyelubungi nurani
Mengusir sunyi dari sudut hati

Langkah tegapmu penuh keyakinan
Akan suatu pengharapan di depan
Memberi semangat kuat menahan
Segala apa yang disebut rintangan

Saat jingga menghiasi angkasa
Berpadu dalam birunya jiwa
Menari dalam alunan nada
Yang tercipta oleh karena cinta

Tersembunyi di relung kalbu
Menyadari kisah yang tak bisa menyatu
Meski jiwa terus merintih letih
Namun sadari itu hanya impian perih

Mendung menggelayut kelabu
Pekat menghitam nuansa melarai
Seperti ingin meniti pelangi di hatimu
Yang ternyata hanya sebuah imajinasi

...
Written by Ari Budiyanti
28 Oktober 2019

#PuisiHatiAriBudiyanti

Sabtu, 26 Oktober 2019

11 Tahun Kompasiana dan 11 Bulan Usiaku Sebagai Kompasianer



Kompasiana sudah berusia 11 tahun pada bulan Oktober 2019. Saya ucapkan Selamat Ulang Tahun yang ke 11 untuk Kompasiana. Saya senang sekali bisa ikut merayakan moment indah di Kompasiana ini melalui tisan saya. Ini dia kisahku bersama Kompasiana tentang hal-hal "Yang Bikin Aku Makin Sayang sama Kompasiana".


Pertama kali join Kompasiana di 1 Desember 2018, saya hanya berani mempostingkan koleksi puisi saja di Kompasiana. Selama 1 bulan itu telah tersimpan 100 puisi pertama saya di Kompasiana. Dengan menayangkan puisi di Kompasiana, saya mendapati bahwa koleksi puisi saya tidak lagi hanya dibaca pribadi dan beberapa orang teman di media sosial. Namun puisi-puisi saya ini jadi dibaca oleh siapapun yang membaca Kompasiana. Bukan hanya itu, adanya komentar baik dan vote dari teman-teman Kompasianer ternyata mendorong semangat saya untuk lanjut menulis. 


Pada awal tahun 2019, saya mulai mencoba menayangkan 10 tulisan narasi sederhana dengan berbagai kategori, mulai edukasi, hobi, lingkungan dan lain-lain. Namun ada yang menciutkan hati saya. Ketika tak satupun tulisan narasi saya (yang bukan puisi) terpilih jadi pilihan editor. Bahkan sempat berpikir hanya akan berpuisi saja di Kompasiana. Teman-teman dekat sqya memotivasi saya. Coba aja nulis terus. Nanti pada saatnya akan jadi pilihan editor juga. Akhirnya saya pun terus mencoba menulis narasi, bukan puisi. Tapi Puisi juga saya tetap tulis. Ternyata benar, akhirnya mulai dipilih sama editor jadi pilihan. Bahkan ada beberapa yang jadi artikel utama. Tidak banyak sih. Tapi saya sudah senang. Tahu tidak Kompasiana? Hal ini yang buat saya juga makin senang menulis di Kompasiana.


Saya mengamati diri saya sendiri, setelah saya bergabung menjadi Kompasianer, saya semakin giat menulis dengan berbagai kategori tulisan. Bahkan cerpen pun saya tulis. Bulan ini saja, Oktober 2019 mungkin ada sekitar 10 cerpen yang saya tuliskan. Saya senang ketika bisa menuangkan imajinasi saya dalam benntuk cerita pendek yang ternyata cukup disukai pembaca. Bagaimana saya tahu? Karena beberapa komentar positif rekan kompasianer, maupun rekan di media sosial yang bukan Kompasianer. Bagaimana saya tidak tambah sayang sama Kompasiana.


Berikutnya adalah adanya blog competition di Kompasiana. Saya pernah berulang kali mencoba ikut berpartisipasi dalam blog competition. Di sini saya menulis tidak boleh mengikuti sepenuhnya kemauan saya sendiri. Ada tema yang ditentukan dan aturannya dalam perlombaan menulis. Semua itu harus saya taati. Terbukti saya  bisa melakukannya. Meskipun, belum pernah satupun blog competition yang saya menangkan. Setidaknya saya "menang" pada diri sendiri  karena bisa menjadi peserta yang menulis menurut tema yang ditentukan. Puncaknya adalah saat mengikuti blog competition #SamberThr. Ini menjadi saat pertama saya bisa menulis 33 artikel setiap hari nonstop dengan tema yang ditentukan Kompasiana. Ini sudah jadi kebanggaan saya tersendiri. Terimakasih Kompasiana, sudah membuat saya ingin terus menulis.


Topik pilihan yang diberikan secara berkala di Kompasiana juga menjadi salah satu motivasi saya mencoba menulis dengan tema sesuai topik. Memang saya hanya pilih topik yang sesuai bidang minat saya. Misalnya tentang lingkungan, edukasi maupun budaya. Tapi apaun itu, Kompasiana membuat saya menemukan kemampuan saya menulis dengan berbagai gaya tulisan. Sebagian besar tulisan saya berbentuk narasi memang lebih banyak bergaya bercerita atau semacam story teller saja. Tapi tidak apa, saya menikmatinya. 
Jumlah pembaca dalam beberapa tulisan saya ada yang mencapai di atas 1000 untuk 1 artikel. Bagi beberapa kompasianer mungkin ini biasa saja, tapi tidak bagi saya. Ini hal yang luar biasa. Artinya buah karya saya ini ternyata sudah menjadi konsumsi khalayak yang jumlahnya banyak. Senang sekali hati saya. Dan saya sengaja menuliskan artikel ini pada saat saya naik tingkat di Kompasiana. Poin saya sudah di atas 10.000 sehingga masuk sebagai Kompasianer Penjelajah hanya dalam waktu usia 11 bulan saya join di Kompasiana. Ini prestasi tersendiri buat saya. Bukti lain bahwa menulis di Kompasiana sungguh menggiatkan semangat saya di bidang literasi.

 
Adanya K-Rewards di Kompasiana terladang juga membuat saya ingin mencoba meraihnya. Misalnya dengan menambah tulisan saya di topik pilihan. Menambah banyak karya saya di Kompasiana. Meski demikian setidaknya dalam 11 bulan bergabung, ada  1 kali saya mendapat K-Rewards. Senang juga mendapat pengalaman itu.


Jadi, terimakasih Kompasiana. Di usiamu yang ke 11 tahun ini, dan di usiaku yang ke 11 bulan sebagai Kompasianer, total semua artikelku termasuk yang ini jadi ada 528 artikel. Memang sih paling banyak puisi dan cerpen. Saya jadi tahu, bidang minat saya terbaik adalah dalam menulis puisi dan cerpen. 
Kisah jalan-jalan saya dan foto-foto menarik sepanjang wisata saya pun akhirnya bisa menjadi artikel. Pekerjaan saya sebagai guru pun bisa membuat saya bersumbangsih dalam beberapa artikel edukasi. Kecintaan saya pada budaya Indonesia bisa pula tertuang dalam tulisan. Hobi saya membaca dan berkebun juga membuat saya rajin menuangkan kisah saya dalam bentuk tulisan di Kompasiana. Anda pasti pernah kan baca kisah-kisah berkebun saya dan beberapa kisah saya bersama buku-buku saya. 


Dari semua total tulisan saya, sampai tulisan ini dibuat, sudah ada 5 tulisan saya yang menjadi headline atau artikel utama, dan ada 245 karya saya menjadi highlight atau pilihan editor. Bahkan keterbacaan semua artikel saya sudah mencapai 65.450 kali. Wow. Ini sebuah prestasi tersendiri buat saya. Apapun komentar negatif orang yang pernah saya dengar berkaitan tulisan-tulisan saya di Kompasiana, tetap saya akan melihat nilai positif yang ternyata sangat banyak saya dapatkan dengan menulis di Kompasiana.


Dirgahayu yang ke 11 untuk Kompasiana. Aku makin sayang kompasiana. Semoga selalu sukses dan memberi banyak manfaat bagi para penulis Indonesia. Salam Literasi. Salam Kompasiana
....
#BeyondBlogging
#11TahunKompasiana
.....
Written by Ari Budiyanti
27 Oktober 2019

Foto penulis artikel mengenakan salah satu baju tradisional Indonesia. Dokumen Pribadi


Kompasiana.com

Buah dari Kesabaran dan Ketabahan



"Kapan kamu mulai penelitianmu di sini? Ayolah cepat datang. Aku sendirian saja berjuang di sini. " kata Ratih padaku. Ratih sudah mulai penelitian kultur jaringan tumbuhan untuk skripsi reproduksi tanaman sejak awal semester lalu. Sementara aku terus menunda pergi ke kota itu. Tempat di mana kami berdua seharusnya menyelesaikan tugas penelitian kami.

Sudah untung punya dosen pembimbing yang baik dan sabar, bahkan mengenalkan kami pada temannya yang peneliti di sebuah perusahaan di kota lain. Yang membuatku menahan bersegera memulai tak lain adalah pikiran-pikiranku yang ribet sendiri. Bagaimana perjalanan ke sana. Macetnya. Harus tinggal di kota baru. Bagaimana penyesuain diri dengan rekan-rekan kerja di perusahaan teman dosen kami, dan lain-lain.

Tak berani kuungkap semua cemasku pada Ratih. Bisa kena marah aku. Setelah lama berpikir, akhirnya aku datang juga ke perusahaan tersebut sebagai mahasiswa peneliti kedua setelah Ratih. 

"Akhirnya kamu datang juga. Semakin lambat memulai, akan selesai lebih lama. Penelitianku beberapa bulan lagi selesai, selanjutnya aku akan balik ke kampus mengerjakan laporan skripsiku di sana. Coba kamu lebih cepat datang, kan kita bisa mulai bersama. " Ratih kembali menasehatiku panjang lebar. 

"Kamu kos di sini saja, sementara berdua denganku. Kalau aku sudah selesai kamu bisa lanjutkan kos di sini. Tidak jauh koq dari perusahaan. Paling jalan kaki 15 menitan." Aku masih diam saat pertama sampai di kota ini. Aku dengarkan saja semua perkataan Ratih. Tentang banyak hal di perusahaan. Nama-nama orang yang akan berkaitan dengan penelitian kami. Dan masih banyak hal lainnya.

Ratih akhirnya mengajakku jalan-jalan mencari makan di sekitar tempat kami kos. Bahkan Ratih menunjukkan jalan menuju alun-alun kota yang ada banyak penjual makanan kalau malam menjelang. 

Keesokkan harinya, Ratih menemaniku bertemu teman dosen kami, yang bertanggung jawab sebagai dosen pembimbing skripsi kami yang kedua. Dalam bimbingan Pak Budi, kami mengerjakan skripsi tentang pohon yang sedang dibudidayakan perusahaan itu.

Aku juga berkenalan dengan beberapa staf yang selalu ada di laboratorium. Mereka yang akan terlibat dalam membantu kami menjelaskan bagaimana menyediakan perlengkapan untuk penelitian. Semuanya orang baik. Selalu bersedia membantu.

Akhirnya Ratih selesai dengan semua penelitiannya. Tapi aku masih baru seperempat jalan. Ratih sudah kembali ke kota tempat kami kuliah dan aku harus tinggal di kota ini. Sendirian sebagai mahasiswi peneliti di perusahaan ini. Baru kutahu rasa sendiri yang dirasakan Ratih sebelumnya. Meski semua staf di sini baik, tapi semua berusia di atasku. Tak ada kawan sebaya. Aku hanya perlu fokus pada penelitianku saja.

Sampai suatu pagi aku dapati ada 2 mahasiswi dan 1 mahasiswa baru di perusahaan. Kaget, senang dan lain-lain. Mereka ternyata para mahasiswa yang magang untuk PKL di sana. Bukan dari kampusku. Mereka dari kota lain lagi. Tapi senang juga ada sesama mahasiswa yang bisa diajak ngobrol. Ketiganya memang mahasiswa yang lebih muda 1 tahun dariku, tapi tak mengapa. 

Selain mengerjakan skripsku adakalanya kami ngobrol di luar materi kuliah. Hanya mengobrol santai. Pernah satu kali dalam tahap penelitianku, yang terdiri dari tiga tahap, pada tahap ketiga penelitianku gagal. Sedihkah aku? Jangan ditanya. Menangis aku dalam hati. Menatap semua botol berisi media tanam dan eksplan yang kutumbuhkan penuh dengan jamur. Semua terkontaminasi.

Di dalam laboratorium, ruang pertumbuhan di mana ku letakkan semua hasil penelitianku, aku terdiam. Dalam hati aku berdoa, berbicara pada Tuhanku apa maksudMu ya Tuhan. Memgapa harus gagal di tahap ketiga? Itu tahap akhir. Yanga rtinya aku harus mengulang lagi dari tahapan awal.

Tak ada titik airmata menetes. Semua orang melihatku dengan rasa iba. Aku hanya tersenyum. "Saya harus mengulang lagi. Mungkin harus ambil calon eksplan dari tempat tumbuh pohon di tempat yang lain" Semua staf dan mahasiwa PKL pun mendoakan keberhasilan penelitian saya berikutnya.

Perbicangan sore itu, saat adik mahasiswi bermain ke kosku, tak kusangka dia mengomentari sikapku menghadapi kegegalan penelitian. "Kak Gita, aku merasa kagum. Kak Gota sama sekali tak nampak marah, atau menangis saat melihat penelitian kak gota gagal. Kalau itu terjadi padaku, mungkin aku akan nangis-nangis sampai marah-marah kali. Kak Gita sabar dan tabah sekali ya" Kata Nia padaku. Kaget juga mendengar komentar itu. Ternyata cataku bersikap mengahadapi kegagalan penelitian sangat diperhatikan.

Aku tersenyum. "Terimakasih Nia. Aku tak menyangka kalau kau sangat memperhatiakan reaksiku terhadap kegegalan. Iya, sebenernya aku amat sangat sedih. Semua tangisku luber di hati dalam doa-doaku pada Tuhan. Nyatanya jika aku marah-marah, menangis dan emosi berlebihan lainnya, bukankah tidak mengubah hasil? Gagal ya tetap gagal. Tak berubah jadi berhasil dengan marah-marah. Aku belajar bahwa kesabaran yang kau lihat dariku, tak lebih dari hasil doaku pada Tuhan. Tuhan sendiri yang menolongku menerima kegagalan dengan ketabahan. Mau tak mau ya harus mengulang lagi dan lebih hati-hati agar tidak sampai gagal lagi. " jelasku pada Nia. Aku jujur. Tak mau aku berpura-pura tetap bahagia. Sedih itu ada, hanya semua kubawa dalam doaku pada Sang Kuasa.

Perbincangan sore itu menolong membuka mataku. Bahwa betapa hidupku ini bagai surat terbuka yang sedang dibaca jelas oleh orang-orang di sekelilingku. Termasuk adik kelas dari kampus lain yang sedang PKL di perusahaan tersebut. 

"Aku akan ingat semua nasehat kak Gita, jika tiba saatnya aku skripsi nanti, akan kucoba hadapi dengan kesabaran dan ketabahan. " kata Nia. Aku senang sekali mendengarnya. Petang data g membuat Nia pamit pulang. 

Hanya beberapa hari kemudian semua mahasiswa PKL itu sudah selesai. Tinggal aku sendiri saja melanjutkan skripsiku. Penelitian terpakasa kuulang lagi. Dan kali ini aku lebih hati-hati agar tidak terjadi kontaminasi pada hasil penelitianku dalam botol-botol kecil itu.

Akhirnya, semua berakhir indah. Penelitianku berhasil. Dan aku bisa pulang ke kota di mana kampusku berada. Aku bisa melanjutkan mengerjakan skripsiku dan mengejar ujian pada waktu yang ditentukan. Akhirnya aku memang bisa wisuda dengan teman-teman seangkatanku. Meskipun aku termasuk yang terakhir mengikuti ujian skripsi.

Gelar S1 pun kuterima dengan senang saat wisuda. Memang nilai skripsiku tidak maksimal layaknya beberapa teman. Tapi setidaknya semua pelajaran kehidupan kudapati saat proses pelaksanaan penelitian skripsiku ini. Aku menikmati prosesnya. Hasil dari kesabaran dan ketabahanku pada akhirnya berbuah manis. Bapak dan Ibu sangat bangga dan juga datang pada acara wisudaku. Aku berfoto bersama teman-teman seangkatan. Jiga tentu saja berfoto dengan Ratih. Teman seperjuangan di perusahaan itu. 

Jadi teman-teman, jika ada masa di hidupmu seperti gagal dan harus mengulang sesuatu, sabar dan tabahlah. Jangan pernah berhenti di tengah perjalanan. Perjuangan yang sudah dimulai, selesaikan dengan baik hingga garis finis.

Mau berjuang bersamaku menggapai mimpi? Ingatlah bahwa Tuhan selalu bersamamu dalam masa suka dan dukamu.


Tamat

..

Eksplan: bagian dari tanaman yang dijadikan sumber perbanyakan dalam kultur jaringan.

....

..

Written by Ari Budiyanti

26 Oktober 2019