memotivasi diri

Teman-teman terkasih,

jika kau masih hidup sampai sekarang,
berarti kau masih beroleh anugerah Tuhan
yaitu kesempatan untuk mewarnai dunia dengan cerahmu'


My Beloved Friends,
if you still alive,
that means you still get a grace from God,
a chance to color the world with your bright.

Selasa, 31 Desember 2019

Tahun Baru, Mengapa Banjir Melanda?

Dalam hiruk pikuk suasana tanggal satu
Mengapa ku dengar berita sendu
Betapa banyak tempat tergenang air
Yang mereka sebut sebagai banjir

Mengapa di awal tahun yang baru
Banyak orang yang dibuat pilu
Tak terbendung luapan air hujan
Mengalir menelusup pemukiman

Basah melanda di mana-mana
Pun kota besar terkena bencana
Tabahkan batin para penderita
Korban bencana banjir kota

Ah mengapa di awal tahun baru jua
Menorehkan kenangan tak terlupa
Betapa ingatkan setiap manusia
Alam dalam amarah sedang bicara

Jika masih kau tumpuk sampah
Pun hutanku dihabiskan pohonnya
Lalu yang hadir sumpah serapah
Atas air yang alam limpahkan semua

Mari di tahun yang baru ini
Kita makin perhatikan kelestarian
Keberadaan jajaran pepohonan
Jangan biarkan mereka terhabiskan

....
Written by Ari Budiyanti
1 Januari 2019

Turut Prihatin atas Banjir Jabodetabek yang melanda rekan-rekan sekalian
Semoga banjir lekas surut

#PuisiHatiAriBudiyanti
#ProjectPuisiBerbalas

Senin, 30 Desember 2019

Mendadak Pagi Hadir Memberi Arti

Ku masih terbuai dalam hangatnya lelah
Pun raga masih berasa penuh lemah
Penantian akan seolah pagi jadi terlupa
Saat masih ingin menyatu terpejam mata

Puisi rajutan para penyambut pagi
Telah hadir siap menggugah hari
Memanggil hadirnya sinar mentari
Keindahan pesona suasana dari Pemberi

Dalam kicau burung yang bersahutan
Pun bunga-bunga serempak bermekaran
Gemericik air sungai berdeburan
Dimulai dengan Kokok ayam jantan

Semangat ditebarkan di mana-mana
Dengan kehadiran tepat waktu sang surya
Sehingga badan ini terbangunkan paksa
Oleh tuntutan kehidupan bagi jiwa

Tak bolehlah lelah menjadi perintang
Akan masa depan yang membentang
Tak bolehlah lemah menjadi penghalang
Akan harapan telah di depan terentang

Mendadak pagi memberi bangunan asa
Untuk melepaskan dari buaian mimpi
Mengejar arti pasti kehidupan bermakna
Menanggalkan angan yang tersembunyi

Mari sambut pagi dengan ceria hati
Agar semangat saja yang memacu diri

....

Written by Ari Budiyanti
31 Desember 2019

#PuisiHatiAriBudiyanti

Laut Itu Tetap Sama

Aku terduduk dalam diam di pantaimu
Masih sama tak jua berbeda
Di hamparan hitam pasir kelabu
Deburan laut dengan ombak di sana

Menatap lajunya air menujuku
Dalam basah seluruh raga
Menanti setiap deburan berpacu
Ingin berkejaran menerobos rasa

Ku masih tetap sama melihat birunya
Saling berkejaran buihnya memecah
Di depan mata bergulung serupa
Mereka masih juga tiada berubah

Ku renungkan kehidupan di depan
Yang pun sama memberi makna
Kadang dipenuhi tarian suka
Adakalanya dengan tamparan luka

Bergulungnya deburan badai cobaan
Menyatu dengan buih-buih pergulatan
Menerjang aku yang masih terduduk diam
Dalam sebuah perenungan terpejam

Bagai laut yang masih terus sama
Pun pula ornamen penghias perjalanan
Hanya menanti dan memilah semua
Agar tak menarik dalam menghanyutkan

Seperti gelombang besar tertarik lagi
Menuju lautan luas di belakangnya
Begitu pula segala pertentangan diri
Akan kembali menuju perhentiannya

Jalani saja seperti menatap lautan
Terima dengan hati penuh kepasrahan
Seperti ombak kembali ke samudera
Tenang kembali datang pada kehidupan

...

Written by Ari Budiyanti
30 Desember 2019

#PuisiHatiAriBudiyanti

Minggu, 29 Desember 2019

Penjaga Pagi

Lelap dalam gelapnya gempita malam
Tersapu oleh sinar penerang jagat raya
Meski kenangan ingin memenjara kelam
Terkalah oleh terang pembesar cahaya

Jeruji benci makin membelenggu
Mengoyak semua harapan indah
Mencengkeram erat hati dalam pilu
Merusak semua asa tak terarah

Seketika lunglai jiwa melanda
Sekejap lenyap segala tenaga
Sejenak pula sirna segala daya
Sementara saja nurani terpenjara

Namun pagi menyeruak hadir tiba-tiba
Mengusik semua macam gulana
Mengusir jauh segala resah kecewa
Menendang pergi semua putus asa

Sang penjaga pagi telah terjaga
Dari semua mimpi buruk mengikat
Lalu memancarkan sinar bagai surya
Menepis semua gelap malam pekat

Lalu apa kau takutkan lagi kawan
Bila si penjaga pagi telah sedia
Ada di sana menjaga berlangsungnya
Menjamin kebahagiaan dan sukacita

Pada sang penjaga pagi aku menengadah
Menaruh rasa dalam segala pasrah
Memberi batin tulus berserah
Membiarkan segala ketakutan terpanah

Hingga hanya tersisa kebaikan saja
Menyelimuti hari yang terlingkup bahagia
Menguasai batin dalam jaminan suka
Bahwa harapan kehidupan selalu ada

  ...

Written by Ari Budiyanti
29 Desember 2019

#PuisiHatiAriBudiyanti



Sabtu, 28 Desember 2019

Sebelum Awan Merindu

Angkasa membara oleh suasana
Saat ungu mengganti semua biru
Kala rasa diselimuti segala rindu
Awan pun ikut melantunkan nada

Lalu rembulan malam tertelan mendung
Sehingga sinarnya tak lagi muncul
Meski mencari setuja bintang pengganti
Namun pancarannya tertelan sepi

Apakah jiwa sedang mengembara
Pada sebuah pencarian makna abadi
Dalamnya emosi mengguncang lara
Sepenuh nurani menggapai sekedar arti

Perjalanan kaki musafir sunyi
Mencoba memecahkan rahasia
Namun yang tertera hanya penanda
Akan berputarnya segala usaha

Menatap terus pada langit
Mengharap pusarannya menyatu
Sebelum awan pun mulai merindu
Aku ingin kalbu segera terkait

Ku tak mau kau dirindukan awan
Karena keberadaaan yang melingkupi
Sepenuh hati yang sedang mencari
Seonggok rasa dalam kepingan cinta

..
Written by Ari Budiyanti
28 Desember 2019

#PuisiHatiAriBudiyanti

Kamis, 26 Desember 2019

Berbagi Kasih Natal di Panti Asuhan


Awal bulan Desember lalu, seorang teman mengajak saya berkunjung ke salah satu panti asuhan di Jakarta. Sebuah kunjungan kasih di bulan Natal. Ini pertama kalinya saya mendapat kesempatan mengunjungi panti asuhan kembali setelah ratusan purnama berselang.

Rencana kunjungan kasih ini memang sudah sejak sekitar bulan November 2019. Kesibukan setiap kami menjelang musim liburan, akhirnya baru bisa diselenggarakan pada bulan Desember tanggal 16, tepatnya hari Senin.

Ide kunjungan kasih ini dari sahabat dekat saya, bu Eliata. Kasihnya pada anak-anak membuatknya tergerak hati untuk mengunjungi panti asuhan tersebut. 

Kami teringat senantiasa, sebuah perintah dari Tuhan yang kami imani, bahwa salah satu ibadah yang sejati adalah saat kita berbagi kebaikan pada mereka yang tidak bisa membalas kebaikan kita.

Salah satunya pada anak-anak di panti asuhan. Anak-anak di sini sungguh secara umum mendapati kehidupan masa lalu yang tidak beruntung. Namun kemudian dalam pemeliharaan kasih Tuhan, mereka dibesarkan dan dirawat di panti asuhan ini. 

Inilah buktinya ada kasih Tuhan atas manusia. Jadi berhentilah mengeluhkan betapa beratnya kehidupanmu karena masih banyak orang yang mempunyai nasib tidak seberuntung kita namun masih menunjukkan kepedulian pada sesama.

Hidup itu tidak melulu selelu harus tentang kita. Hidup adalah tentang berbagi kasih dan kebaikan pada sesama, terlebih mereka yang membutuhkan. 


Bu Eliata memulai acara dengan memperkenalkan timnya dan mengenal nama anak-anak. Ada 4 orang yang datang, bu Eliata, Stenly, saya (Ari) dan adik saya, Vitri. Lalu bu Eliata memimpin anak-anak untuk menyanyi bersama. Lagu dengan gerakan yang menarik untuk anak-anak.

Rekan kami Stenly memainkan gitar dengan indahnya untuk mengiringi lagu-lagu yang kami dendangkan bersama. Tentu saja kami pilihkan lagu-lagu anak-anak yang disertai gerakan menarik. 


Tibalah kesempatan saya untuk berbagi cerita untuk anak-anak. Saya membawakan cerita tentang kelahiran bayi Yesus di kandang domba. Juga dilanjutkan tentang berita kedatangan malaikat pada para gembala untuk memberitakan kelahiran Tuhan Yesus di kandang domba di kota Betlehem. Saya berusaha membawakan cerita dengan menarik dan mengajak anak-anak berinteraksi dengan mennjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana.


Saat saya berbagi kisah Natal, hati saya begitu meluap dengan sukacita. Kesukaan saya dalam mendongeng ternyata dipakai Tuhan untuk bisa membahagiakan anak-anak ini. Mereka begitu antusias mendengarkan cerita. Itu sungguh menghibur hati saya. Bahagianya sungguh tak terlukiskan.


Selesai acara inti, kami memberi kesempatan anak-anak yang ingin maju menyanyi diiringi dentingan gitar rekan kami Stenly. Lalu acara diakhiri dengan makan bersama dan keakraban dengan anak-anak dan tim penjaga dan staf panti asuhan.

Rekan kami Stenly mendapat perhatian paling banyak dari anak-anak panti asuhan. Kebaikan hatinya memberi daya tarik khusus pada anak-anak yang merindukan sosok seorang ayah. 


Adik saya Vitri mengambil peran di bagian dokumentasi. Foto-foto untuk kenang-kenangan kami semua. Sungguh berharap di kesempatan lain, kami bisa mengunjungi kembali panti asuhan ini. Nama panti asuhannya adalah Kasih Bapa. 

Kami juga bersyukur pada Tuhan, bahwa Natal ini bisa kami isi dengan berbagi kasih bagi sesama. Seperti tema besar yang diangkat PGI untuk Natal tahun ini adalah tentang menjadi Sahabat bagi semua orang. Dan kami berusaha menjadi sahabat bagi anak-anak panti asuhan. 


Bahkan kunjungan ini menginspirasi saya menulis sebuah puisi di Kompasiana berjudul Meniti Kasih Sayang

Bagaimana dengan Natal Anda, rekan-rekan yang merayakannya? Semoga Anda melewati masa-masa Natal yang berkesan. Tunggu kisah Natal berikutnya dari saya ya. Selamat menikmati kebersamaan dengan keluarga dan orang-orang yang Anda kasihi. Ini salah satu cara saya mengisi liburan santuy saya. Bagaimana dengan Anda?


...

Written by Ari Budiyanti

27 Desember 2019

Memasung Pagi

Dalam deburan rasa tak terduga
Batin terus menggelora oleh kesah
Betapa angin badai kecewa melanda
Menorehkan sejuta luka yang basah

Cerianya mentari pagi tak jua berarti
Cerahnya fajar pun terlupa
Terkonsentrasi pada luka hati
Menumpulkan segala emosi rasa

Lalu datang kokok ayam jantan
Menyerukan mulai perjuangan
Namun sukma yang meronta pelan
Membuat sukacita pagi tersepikan

Bagai memasung meriahnya pagi
Ketika nurani bersemai luka lama
Lalu lupakan semua pesona mentari
Yang menyapa hangat menghibur duka

Apakah kau juga sama
Dengan mereka para perasa
Yang sia-sia mengalunkan nada
Saat memasung pagi yang ceria

Hentikan segala perih penyayat suka
Patahkan semua sepi yang membara
Bersegera menyambut dengan sukacita
Lepaskanlah pagi dari belenggu lara

...

Selamat beraktivitas penuh semangat di pagi ini

Written by Ari Budiyanti
27 Desember 2019

#PuisiHatiAriBudiyanti